Ketika Haji Khusus Jadi Pilihan

Petang itu, Yamtima Sumadi Wongso memegangi dua koper berwarna oranye sambil duduk di salah satu Plaza Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi. Dia menunggui suaminya yang sedang shalat Maghrib di masjid bandara.

Warga Jakarta Timur kelahiran Kebumen (Jawa Tengah) ini baru mendarat dari Jakarta bersama 379 orang jamaah haji khusus. Wanita berusia 65 tahun itu berangkat ke Tanah Suci melalui sebuah biro perjalanan.

“Saya pilih biro ini karena ingin berhaji dengan cepat, nyaman, dan terjamin keberangkatannya. Kayaknya ndak ada masalah,” katanya kepada saya. Yamtima sendiri yang meminta saya mendampinginya di plaza itu selama suaminya shalat.

Dia memilih haji khusus bukan berarti tak pernah mendaftar haji reguler. Dia pernah mendaftar haji reguler pada 2004 saat masih menetap di Kabupaten Magelang, Jateng. Karena antrean terlalu lama atau berangkat haji pada 2016-2017, dia akhirnya mendaftar haji di Kantor Kemenag Kota Bandung, Jawa Barat. Di Kota Kembang ini, antrean jamaah juga terlalu lama. Akhirnya, anaknya menyarankan agar Yamtima dan suami mendaftar di Jakarta Timur.

Yamtima kemudian mendaftar haji reguler pada 2010. Ternyata, dia dan suaminya harus mengantre sekitar lima hingga enam tahun untuk berhaji. Pada 2012 salah satu dari empat anaknya bergabung di sebuah biro perjalanan haji. Dalam beberapa bulan, tepatnya pada 2013, anaknya tersebut sudah berhaji dan umrah tiga kali. Anaknya kemudian mendaftarkan Yamtima dan suaminya berangkat haji melalui biro tersebut. Tak sampai dua tahun, Yamtima dan suaminya yang berprofesi sebagai pengusaha mebel akhirnya bisa berangkat haji.

“Alhamdulillah, hanya menunggu dua tahun,” ujarnya. Sebelum berhaji, Yamtima sempat berumrah bersama 12 anggota keluarganya. Keempat anak-anaknya juga sudah berumrah, rata-rata dua kali. “Ada yang umrah tiga kali,” katanya.

Sudah lama Yamtima ingin menunaikan ibadah haji. Dia merasa bersyukur bisa berhaji tahun ini tanpa terlalu lama menanti. Sebab, saudaranya yang di Malang, Jawa Timur, harus menanti berangkat haji pada 2019.

Mengenai biaya yang harus dikeluarkan, Yamtima menyebut Rp 104 juta atau Rp 208 juta untuk dua orang. Baginya biaya sebesar itu sepadan dengan pelayanan yang diterima selama di Arab Saudi.

Salah satu jamaah haji khusus, Sholihin Yusuf, mengaku mendaftar lewat ONH Plus untuk mendampingi bapak kandung dan bapak mertuanya yang sudah sepuh. Bapak kandungnya, Sutarjo, sudah berusia 72 tahun, sedangkan bapak mertua, Sarji, berusia 73 tahun. “Kalau mendaftar haji reguler, kasihan, bisa menanti lama,” ujar warga Jember yang mendaftar haji melalui sebuah travel di Surabaya. Biaya yang harus dikeluarkan Sholihin, yakni Rp 95 juta per jamaah.

Sholihin mengaku pernah beribadah haji pada 2003 dan 2008. Saat berhaji bersama istri dan ibu kandung pada 2003, Sholihin mendaftar pada 2002. Sedangkan, saat berhaji tahun 2008, dia mendaftar pada 2007. “Masih menunggu setahun saja, beda dengan sekarang, daftar tahun ini, bisa berangkat haji pada 2028,” ujar Sholihin yang sehari-hari berprofesi sebagai mubalig (dai) ini.

Salah satu jamaah haji khusus, Yusni Warhamdi, juga mengaku mendaftar ONH Plus karena faktor usia, mencapai 70 tahun. “Usia saya sudah 70 tahun. Kalau mendaftar haji reguler, terlalu lama, belum tentu saya bisa berangkat haji dengan cepat,” katanya.

Selain layanan perjalanan dan pemondokan yang berbeda dengan jamaah haji reguler, jamaah haji khusus juga mendapatkan layanan maktab spesial, yakni Maktab 111 sampai 116 dan Maktab 75-76 selama di Armina (Arafah, Muzdalifah dan Mina). “Harga paket maktab ini sangat tergantung servis yang diberikan oleh maktab dan jarak maktab ke jamarat,” ujar Kepala Seksi Pengendali Penyelenggara Ibadah Haji Khusus, PPIH, Cecep Nursyamsi.

Biasanya setiap maktab mengurusi sekitar 2.000-3.000 orang jamaah haji. Bila satu maktab haji reguler berisi 3.000 orang jamaah, maktab untuk jamaah haji khusus hanya sekitar 2.000-2.200 orang. Sehingga, jamaah haji khusus tidak memadati di dalam tenda-tenda maktab. Demi mendapatkan kenyamanan itu, biaya yang dikeluarkan tiap-tiap jamaah haji khusus berkisar 2.200 riyal-6.000 riyal atau setara Rp 7 juta hingga Rp 19 juta.

Fasilitas yang mereka terima beragam, namun tentunya lebih mewah. Di tenda maktab selama pelaksaan wukuf, jamaah haji khusus akan tidur di atas kasur. Untuk paket termahal, terdapat sofa di maktab. Menu makanannya juga lebih beragam.

Jamaah haji khusus tersebut mengeluarkan dana lebih secara beragam untuk berhaji sesuai nilai paket yang ditawarkan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Harga paket haji untuk haji khusus ini sekitar Rp 95 juta hingga paket termahal Rp 250 juta. Masa berhaji paket termahal ini sekitar 14 hari. Paket paling mahal itu dipasarkan Biro Perjalanan Maktour. Mereka menawarkan paket termurah 17 ribu dolar AS sampai 23 ribu dolar AS (Rp 200 juta-Rp 250 juta). Tahun ini, jumlah jamaah haji yang bisa dilayani Maktour hanya 314 orang.

Jamaah haji khusus atau reguler merupakan haji resmi sesuai kuota. Bukan jamaah haji nonkuota yang nasibnya tidak menentu selama di Arab Saudi. Jamaah haji khusus atau haji reguler, semoga mereka semua mendapat haji mabrur. Aamiin.

Sumber : Republika.co.id

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *